Tiga goresan hitam masih membekas di tembok pemisah jalan toll, menjelang KM 391 Trans Jawa, selepas jembatan Kali Kuto yang ikonik itu. Sisa-sisa pecahan body mobil dan kepingan lampu sein telah dibersihkan dari badan jalan, lalu lintas kembali normal.
Dua jam yang lalu, sekitar pukul 9:40 pagi, Jumat 25 Juli 2025, mobil yang kami tumpangi baru saja pecah ban kiri belakang. Mobil tak terkendali, menghantam tembok pemisah jalan toll di sisi kanan beberapa kali. Lalu menghantam badan truk besar pengangkut mobil di sisi kiri, yang sedang melaju dalam perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur membawa 6 mobil baru.
Benturan sangat keras itu juga yang akhirnya menghentikan laju mobil kami, melintang di lajur kanan toll. Menghentikan, sekaligus menyelamatkan. Tidak membuat mobil kami terpelanting lebih jauh, atau bahkan terbalik. Sisi kiri depan mobil, terkoyak rusak parah. Juga bagian belakang mobil. Beruntung dan bersyukur -Thank God- kami bertiga di mobil tidak mengalami cidera serius. Seorang teman yang mendapat kabar kecelakaan itu berkata, “Malaikatnya banyak”.
Dan kami masih tetap mau berlari.
Kalaulah tahun lalu (baca “Pain”) di KM50 -dari 100K yang harus ditempuh- aku memutuskan untuk DNF (do not finish), tahun ini aku kembali bukanlah bentuk pembalasan. Jauh dari itu. Sejak pertama membaca nama race ini, tahun lalu, tahun pertama race ini secara resmi dilombakan, entah kenapa, aku langsung jatuh cinta. “Ring of Lawu”. (Note: Ada tambahan kata “Siksorogo” di nama race itu. Siksa raga. Ditambah slogan kebanggaannya, “Capek Itu Apa”.) Berlari dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya, Karanganyar – Sragen – Ngawi – Magetan, kaki-kaki yang mengelilingi Gunung Lawu, membentuk “cincin”. Keindahan di depan mata. Pengalaman yang menjanjikan. Jiwa petualangan membuncah. Namun cincinku belum penuh, belum utuh. Aku butuh bagian lain cincinku. Aku butuh “melihat diriku” di sisi dunia yang itu.
Start tepat pukul 5 pagi, Sabtu 26 Juli 2025. Langit masih gelap. (Aku berharap koor kolosal “Conquest of Paradise” diputarkan berulang-ulang mengantar para pelari, sayangnya tidak terdengar.) Kicau burung menyambut. Matahari pagi menyapa. Angin sejuk memeluk. Sawah ladang, anak-anak sekolah, kehidupan damai desa di pagi hari. “Kemewahan” yang sekali lagi kudapatkan, namun tanpa diganggu rasa nyeri di bahu dan lengan kiri seperti tahun sebelumnya. Atau nyeri ringan di dada kanan akibat benturan seat belt sehari sebelumnya.
Jalanan mendaki dan menurun, terus menerus rolling tiada henti, antara water station (WS) satu ke WS berikutnya, yang berjarak setiap 5K. Bermodalkan minuman air mineral dan isotonik, serta asupan potongan semangka, pisang dan jeruk. “Melahap” elevasi total 1.300meter lebih, serta “kehilangan” elevasi sekitar 2.200meter, ketika akhirnya mencapai Check Point (CP) di KM50, Desa Macanan. Setengah lingkaran “cincin”, matahari di atas kepala, pukul 12.38. Terima kasih kepada sepasang kaki kokoh, kepada paha lutut betis, kepada paru-paru dan jantung. Terima kasih kepada gravitasi.
Makan siang -nasi kuah sop dan es buah- dan duduk, setelah sepanjang jalan terus bergerak tanpa henti, tanpa istirahat. Mengganti kaos basah, topi basah, dan buff basah; memberi isyarat dan semangat kepada tubuh dan kepala untuk bersiap menempuh “second half”. Membentuk sisi lain cincin, sisi lain diriku pasca-50K. Memasuki medan dengan elevasi gain 2.000meter lebih hingga ke garis finish. Hawa panas yang nanti sore dan malam akan segera digantikan dingin mengigilkan. Bagian tersulit, yang untungnya dibekali tabungan waktu longgar, untuk COT (cut of time) hingga pukul 6 pagi besok.
Ternyata tubuh memang tidak semudah itu dikelabui. “The mind may lie, but the body cannot.” Ketika menuju CP berikutnya di KM75, dominan hanya ada tanjakan panjang dan tanjakan curam. Hanya mampu berjalan. Berlari hanya saat turunan. Panas membakar perlahan berganti sejuk sore, dan kantuk tiba-tiba menyergap. Akhirnya menyerah untuk “mencuri” duduk dan jajan es teh manis di kios-kios kecil yang tersebar di begitu banyak lokasi, kiri kanan jalan. Sekali mampir tidak cukup, lalu mampir lagi untuk kedua kalinya, untuk mengasup gula dan mengusir kantuk. Azan magrib baru saja berkumandang di langit senja, ketika aku mencapai CP di Kebun Refugia itu.
Menggandakan kaos kering di dalam kaos luar yang basah. Bermodal sepotong roti dan dua gelas coca cola, melanjutkan perjalanan, menembus malam, menuju dinginnya Cemoro Sewu di ketinggian 1.800 mdpl. (Dan berbekal hiburan penyemangat dari beberapa pelari yang tadi berpapasan di jalan atau penjaga WS, pertanyaan berulang “Umur berapa, Pak?” dan “Ambil individu, Pak?” lalu disambung teriakan “Gusti Allah!” Atau juga dari petugas WS yang bertanya, “Namanya ada Hogan, ada hubungan sama pemain, apa itu ya, WWF itu ya, Pak?” “Benar…!” Si penanya sumringah, tebakannya dirasa benar. “Benar, Hulk Hogan pemain WWF itu, tapi gak ada hubungannya.” Seisi WS terbahak. Pamit ah. Besok-besok gua mau semir atau cukur jenggot aja kalau lari lagi.)
Kembali, tanjakan dan tanjakan. Curam dan panjang. Berjalan dan berjalan. Antara sadar dan terkantuk-kantuk. Melangkah, menunduk dalam-dalam sambil membayangkan sedang berjalan di lintasan datar. Membayangkan diri bukan seperti serdadu yang tengah baris-berbaris menjejakkan kaki keras-keras ke bumi, melainkan seperti penari balet yang tengah menari, melayang ringan di atas pelukan “mother-nature”. “Does it work? It works on me!” Kalimat penyemangat dan penghibur terbaik malam itu adalah di WS terakhir, KM93, di Cemoro Kandang. Seperti siraman air di kepala yang terik tadi siang, seperti pelukan hangat di dingin yang menggigit di Cemoro Sewu, “Sisa 7 kilo tinggal turunan aja…”
Hari masih belum berganti, pukul 23:54, ketika aku menapak karpet biru melintas garis finish, garis yang sama saat aku memulai pagi tadi. Sunyi. Tidak ada sambutan dan pelukan, tidak ada paduan suara “Conquest of Paradise”. Hanya ada aku, yang baru saja menyelesaikan petualangan hari ini, sendiri, sejak pagi subuh hingga tengah malam, sendiri, panas dan dingin dan di antaranya, sendiri. Hanya ada aku, yang baru menempuh perjalanan panjang kontemplasi, yang baru kembali setelah tenggelam dalam momen “the loneliness of a distance runner”. Hanya ada aku, dan lingkaran penuh cincinku.
NH